Ini adalah Tugas Mata Kuliah Softskill Audit Teknologi Sistem Informasi. Materi tentang Cobit Framework dari mulai :
1. Definisi Cobit Framework
2. Siapa saja Pengguna Cobit Framework
3. Skala Maturity dari Cobit Framework
1. Definisi Cobit Framework
2. Siapa saja Pengguna Cobit Framework
3. Skala Maturity dari Cobit Framework
Definisi dari Cobit
COBIT Framework adalah standar kontrol yang umum
terhadap teknologi informasi, dengan memberikan kerangka kerja dan kontrol
terhadap teknologi informasi yang dapat diterima dan diterapkan secara
internasional. COBIT (Control Objectives for Information and Related Technology)
merupakan audit sistem informasi dan dasar pengendalian yang dibuat oleh Information
Systems Audit and Control Association (ISACA) dan IT Governance
Institute (ITGI) pada tahun 1992.
COBIT bermanfaat bagi manajemen untuk membantu
menyeimbangkan antara resiko dan investasi pengendalian dalam sebuah lingkungan
IT yang sering tidak dapat diprediksi. Bagi user, ini menjadi sangat berguna
untuk memperoleh keyakinan atas layanan keamanan dan pengendalian IT yang
disediakan oleh pihak internal atau pihak ketiga. Sedangkan bagi Auditor untuk
mendukung atau memperkuat opini yang dihasilkan dan memberikan saran kepada
manajemen atas pengendalian internal yang ada.
Pengguna Cobit Framework
Adapun
pengguna dari Cobit adalah organisasi/perusahaan dari berbagai
latar belakang dan para profesional external assurance. Secara manajerial
target pengguna COBIT adalah manajer, pengguna dan profesional TI serta
pengawas/pengendali profesional.
Skala
Maturity Cobit Framework
Maturity model adalah suatu metode untuk mengukur
level pengembangan manajemen proses, yang berarti adalah mengukur sejauh mana
kapabilitas manajemen tersebut. Seberapa bagusnya pengembangan atau kapabilitas
manajemen tergantung pada tercapainya tujuan-tujuan COBIT yang . Sebagai contoh
adalah ada beberapa proses dan sistem kritikal yang membutuhkan manajemen
keamanan yang lebih ketat dibanding proses dan sistem lain yang tidak begitu
kritikal. Di sisi lain, derajat dan kepuasan pengendalian yang dibutuhkan untuk
diaplikasikan pada suatu proses adalah didorong pada selera resiko Enterprise
dan kebutuhan kepatuhan yang diterapkan.
Maturity model dapat digunakan untuk memetakan :
1. Status pengelolaan TI perusahaan pada saat itu.
2. Status standart industri dalam bidang TI saat ini
(sebagai pembanding)
3. status standart internasional dalam bidang TI saat
ini (sebagai pembanding)
4. strategi pengelolaan TI perusahaan (ekspetasi
perusahaan terhadap posisi pengelolaan TI perusahaan)
Tingkat kemampuan pengelolaan TI pada skala maturity
dibagi menjadi 6 level :
Level 0(Non-existent); perusahaan tidak
mengetahui sama sekali proses teknologi informasi di perusahaannya
Level 1(Initial Level); pada level ini,
organisasi pada umumnya tidak menyediakan lingkungan yang stabil untuk
mengembangkan suatu produk baru. Ketika suatu organisasi kelihatannya mengalami
kekurangan pengalaman manajemen, keuntungan dari mengintegrasikan pengembangan
produk tidak dapat ditentukan dengan perencanaan yang tidak efektif, respon
sistem. Proses pengembangan tidak dapat diprediksi dan tidak stabil, karena
proses secara teratur berubah atau dimodifikasi selama pengerjaan berjalan
beberapa form dari satu proyek ke proyek lain. Kinerja tergantung pada
kemampuan individual atau term dan varies dengan keahlian yang
dimilikinya.
Level 2(Repeatable Level); pada level ini,
kebijakan untuk mengatur pengembangan suatu proyek dan prosedur dalam
mengimplementasikan kebijakan tersebut ditetapkan. Tingkat efektif suatu proses
manajemen dalam mengembangankan proyek adalah institutionalized, dengan
memungkinkan organisasi untuk mengulangi pengalaman yang berhasil dalam
mengembangkan proyek sebelumnya, walaupun terdapat proses tertentu yang tidak
sama. Tingkat efektif suatu proses mempunyai karakteristik seperti; practiced,
dokumentasi, enforced, trained, measured, dan dapat
ditingkatkan. Product requirement dan dokumentasi perancangan selalu
dijaga agar dapat mencegah perubahan yang tidak diinginkan.
Level 3(Defined Level); pada level ini, proses
standar dalam pengembangan suatu produk baru didokumentasikan, proses ini
didasari pada proses pengembangan produk yang telah diintegrasikan.
Proses-proses ini digunakan untuk membantu manejer, ketua tim dan anggota tim
pengembangan sehingga bekerja dengan lebih efektif. Suatu proses yang telah
didefenisikan dengan baik mempunyai karakteristik; readiness criteria,
inputs, standar dan prosedur dalam mengerjakan suatu proyek, mekanisme
verifikasi, output dan kriteria selesainya suatu proyek. Aturan dan tanggung
jawab yang didefinisikan jelas dan dimengerti. Karena proses perangkat lunak
didefinisikan dengan jelas, maka manajemen mempunyai pengatahuan yang baik
mengenai kemajuan proyek tersebut. Biaya, jadwal dan kebutuhan proyek dalam
pengawasan dan kualitas produk yang diawasi.
Level 4(Managed Level); Pada level ini,
organisasi membuat suatu matrik untuk suatu produk, proses dan pengukuran
hasil. Proyek mempunyai kontrol terhadap produk dan proses untuk mengurangi
variasi kinerja proses sehingga terdapat batasan yang dapat diterima. Resiko
perpindahan teknologi produk, prores manufaktur, dan pasar harus diketahui dan
diatur secara hati-hati. Proses pengembangan dapat ditentukan karena proses
diukur dan dijalankan dengan limit yang dapat diukur.
Level
5(Optimized Level); Pada level ini, seluruh organisasi difokuskan pada proses
peningkatan secara terus-menerus. Teknologi informasi sudah digunakan
terintegrasi untuk otomatisasi proses kerja dalam perusahaan, meningkatkan
kualitas, efektifitas, serta kemampuan beradaptasi perusahaan. Tim pengembangan
produk menganalisis kesalahan dan defects untuk menentukan penyebab
kesalahannya. Proses pengembangan melakukan evaluasi untuk mencegah kesalahan
yang telah diketahui dan defects agar tidak terjadi lagi.
Adapun Sumber yang diambil :
https://www.kajianpustaka.com
https://dhienzzworld.wordpress.com
http://hanif720.blogspot.com
Komentar
Posting Komentar